Pemanasan global atau global warming kini menjadi wacana utama dalam berbagai sendi kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam industri properti. Maklum, industri ini dianggap punya kontribusi besar dalam menciptakan pemanasan global. Contoh yang paling mudah, ketika banjir melanda Ibukota Jakarta, tudingan bisa langsung diarahkan kepada sejumlah pengembang yang tidak peduli pada lingkungan, juga ketidak-becusan pemerintah dalam mengatur tata ruang kota. Minimnya lahan hijau terbuka serta areal tangkapan air hujan punya andil besar terhadap bencana banjir.
Problema ini sesungguhnya menjadi pe-er kita bersama bagaimana menjadikan Jakarta sebagai green city. Kota yang yang tidak hanya nyaman dihuni, tapi juga aman dengan tingkat kualitas hidup yang layak dengan standar tertentu. Meretas jalan menjadikan ibukota tanah air –dan kota-kota lainnya di Indonesia– menjadi green city memang tidak bia berlangsung seketika. Berkaca pada urgensi isu tersebut, Senior Urban Designer, M. Ridwan Kamil bersedia membagi pengetahuan seputar isu green city dan pemanasan global. Berikut perbincangan Budi Purnomo dari REALESTAT, dengan Emil, demikian arsitek superblok Rasuna Epicentrum ini akrab disapa.
Semoga jakarta green city dapat segera diwujudkan.
[...] seorang arsitek yang menginspirasi saya juga membahas tentang perlunya menjaga keseimbangan antara ekologi dalam [...]
Omong kosong bicara green-city di JKT kalau persoalan mendasar seperti urbanisasi tidak dibereskan!
Klo di daerah2 mungkin iya bs diwujudkan greencity….
Dimulai dr hal yg kecil, akan menjadi besar. Semoga greencity dpt terwujud.